Ujian RGO303 Sesungguhnya Bagi Megawati

Di sinilah ujian rgo303 sesungguhnya bagi Megawati yang dikenal tegas dalam menegakan aturan partai. Pemecatan kepada kader-kader terkenal di masa lalu, termasuk juga terakhir terhadap Budiman Sudjatmiko yang mbalelo pada ketetapan partai, dilakukan semudah membalikan telapak tangan.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Jokowi meskipun pada Gibran, dan juga Bobby Nasution - menantu Jokowi -- tetap diberlakukan aturan partai dengan memaksanya ke luar dari kandang banteng.

Pertanyaan kita, kenapa Megawati membiarkan keangkeran hak prerogatifnya "dinodai" oleh kadernya? Bukankah selama ini Megawati tidak sempat pandang bulu dalam menegakkan aturan partai?

Barangkali Perdana, Megawati menginginkan nada kader-kader PDIP pro Jokowi tidak lari. Walau Jokowi hanya menyumbang 4-5 % nada pada dua pemilu Diawal mulanya, Megawati masih memasang target memenangkan Pemilu 2024. Kehilangan nada dari suporter Jokowi berpotensi merusak mimpi hattrick yang sudah terlanjur disuarakan.

Ke-2, Megawati tidak percaya Ganjar-Mahfud MD dapat memenangkan Pilpres 2024. Apalagi, sejak Gibran resmi jadi cawapres, elektabilitas pasangan yang diusung PDIP terjun bebas. Walau, seperti juga dikatakan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, hasil survei bukan tolok ukur Penting, tetapi sulit juga utk mengabaikan, terutama dari lembaga-lembaga survei kredibel seperti Litbang Kompas.

Ke-3, sebagai antisipasi manakala Ganjar-Mahfud masuk putaran ke-2 bersama Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar. Sebab Pilpres 2024 sangat terbuka terjadi 2 putaran. Bahkan hasil survei internal tim Ganjar-Mahfud, tidak menunjukkan adanya pasangan yang mampu mendapati nada nasional di atas 50 persen.

Apabila pada putaran ke-2 jawara PDIP berhadapan dengan AMIN, maka logikanya tidak sulit bagi Megawati utk memaksa Jokowi mengalihkan dukungan terhadap Ganjar-Mahfud selama masih berstatus kader PDIP.

Jikalau benar Begitu, maka sesungguhnya Megawati sedang mempertaruhkan kehormatan partai dan kesucian hak prerogatifnya. Di masa Akan datang, kader-kader PDIP bakal lebih berani melakukan hal mirip karena meyakini ketegasan Megawati dapat "dijinakkan" dengan polesan pencitraan.

Apabila memang lah percaya hasil survei tidak menggambarkan kondisi sebenarnya, seperti dikatakan Hasto, semestinya Megawati tetap terus menegakkan aturan partai. Karena itu yang selama ini menolong kebesarannya.

Momentum ultah ke-51 bisa diperlukan Megawati buat mengevaluasi sikap politiknya kepada Jokowi. Lebih-lebih, dengan argumen ada agenda kunjungan kerja ke Filipina, Jokowi tidak hadir dalam perayaan HUT PDIP. Sesuatu yang baru mula-mula kali berjalan selama sekitar 20 thn Jokowi jadi kader PDIP.

Apakah hari ini kita bakal mendengar ketegasan Megwati? Mari kita tunggu pidato politik Megawati yang dikasih judul "Satyam Eva Jayate" atau Kenyataan Tentu Menang".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *